Kamis, 24 Juli 2014

contoh surat tugas wawancara pada buletin


LOGO BULLETIN DAN KEPALA SURAT

Nomor            : NJ-MA02/BEMs/KAMAL/0008/05.2013


Lampiran       : -0-
Perihal           : Permohonan


Kepada
Yth. KH. Najibur Rahman Wahid
di
Kediaman



Assalamualaikum               War.                Wab.

Disampaikan dengan hormat bahwa Kru Redaksi Buletin KAMAL akan Menerbitkan Buletin Edisi XX dengan Tema “Toleransi dalam Agama, Amal Sholeh atau Amal Salah?”

Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon kesediaan Bapak untuk menjadi Narasumber dalam rubrik Taqrir (wawancara).

Demikian surat permohonan ini kami buat, mendahului perkenannya kami sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum           War.                Wab.



Paiton, 22 Mei 2013
Pimred KAMAL                                                                                 Sekertaris,




M. Afton I.H                                                                                       Nikmatul Maula

cerpen

DZIKIR SETAN
(sudah dimuat di al-amiripost)
Aku masih menari, mendengar suaramu memanggil-manggil namaku. Api di perapian tak kurasakan lagi. Begitu juga lagu pengiring rindu. Kurasakan perlahan hadirmu dalam nadiku. Dalam sum-sumku. Dalam nafasku.bresss… mendadak semua senyap. “Ada apa ini?.“
            Semua hilang, hanya dia, hanya engkau, hanya kita, hanya aku. Aku. Aku. “hanya aku!”. Tak mungkin kulukiskan lagi, hanya ini kemampuan lidah dan jari. Hanya aku.
###
            Mawar, wanita itu begitu indah. Wanita tinggi, imut dan kuning langsat bagai sepuhan emas murni yang benar-benar hidup ini yang kumaksud. Dan satu lagi, senyumnya itu loo, bisa menghentkan gelombang tsunami, apalagi Cuma lelaki, pasti keok. Wanita inilah mantan pacarku. bermesraan adalah satu kenangan manis, karena tanpa sebab yang pasti-atau aku yang tak tahu-dia berikan kertas bertuliskan ”kita putus” sore itu, usai permainan basket klub kami, dan keesokan harinya dia sudah menggandeng salah satu pemain basket itu.
            Kutumpahkan semua dalam tangisku. Entah berapa lama, sampai aku hilang. Minggat dari rumah. 
###
Setelah itu aku terkatung-katung tanpa tujuan. Tak mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku berjalan kemanapun kaki ini membawaku melangkah, mencari sisa selera hidupku yang nyaris lebih tipis dari kulit bawang.
Setiap ada masjid yang terbuka aku singgahi, entah itu waktu sholat atau pun tengah malam, bahkan tak jarang aku menginap di masjid. Yah, tak jarang aku pun kecewa, masjid yang dulunya dibangun dari minta-mita di jalan, eh, setelah jadi kog ditutup dan hanya dibuka kalau adzan, itupun yang berjamaah berkala; kala rajin rame, kala malas ya kosong.
Sampai suatu malam aku bertemu dengan seorang lelaki tinggi besar, berjubah putih, berjanggut tebal dan panjang. Kulihat ia sholat tak henti-henti di masjid pertengahan malam. Aku mendekat kearahnya dan berlindung dibalik tiang besar di masjid tua yang gelap itu. Suaranya terdengar sayup-sayup indah merobek sunyi mencekam, sementara suara gesekan baju atau lututnya yang mengetuk lantai seperti drum yang justru memperindah khusu’ kholwat-nya. Lalu pada garis ujung music wusul tuhannya, ia baca salam pada kanan dan kiri, seakan ingin mengabarkan bahagia pertemuan dua kekasih yang lama tak jumpa. Ia tengok ke kanan lalu ke kiri dan menyampaikan dengan senyum puas ”assalamu ‘alaikum warohmatullah. Allah menitip salam dan rahmatnya untukmu.”
Usai sholat lelaki itu bersila dan mengulang-ulang kata dari bahasa yang tidak sama sekali kumengerti. Tapi gerak kepala dan tubuhnya yang ke kanan dan ke kiri seolah ingin memberitahuku, ia sedang menari dan memuji sesuatu yang memang selayaknya untuk dipuji.
Tak terasa aku terhanyut dan ikut mengiringi dzikirnya dengan dzikirku yang sudah kuhafal sejak madrasah dulu “subhanallah, al-hamdulillah, laa ilaha illallah…” kami berdzikir, sampai ia menyadari ia tidak sendiri di masjid itu.
###
Awalnya kami berdzikir bersama, lalu suaranya melemah hingga akhirnya hilang
“assalamu alaikum, nanda siapa?” katanya tanpa membalikan badan. Spontan aku terkejut mendengarnya
“wa…wa’alaikum sss..alam…” jawabku tergagap sambil berjalan ngesot kebelakangnya
“maaf mengganggu dzikir saudara, saya tidak bermaksud, saya Cuma mau numpang istirahat di sini”, ujarku yang sudah mulai bisa mengontrol diri. Ia menghembuskan nafas lalu membalikkan badan menghadapku. Subhanallah, di wajahnya seolah ada sinar yang memancarkan keteduhan.
“sepertinya nanda tertarik untuk berdzikir?”
“em… sebetulnya, ia. Saya heran kenapa saudara bisa begitu khusu’?” Tanyaku terus terang
“oh, itu. Itu karena saya telah mencintai tuhan dan menyatu dengannya”
“menyatu dengan tuhan?” tanyaku heran. Tapi ia hanya mengangguk.
“bagaimana caranya?”
“nanda pernah jatuh cinta?” selidiknya
“ya” jawabku. Ia tersenyum.
“setiap kau berdzikir, bayangkan saja gadismu itu. Bayangkan kau dan dia saling mencintai dan menyatu. Lalu bayangkan tuhanmu telah menyatu denganmu. Maka halal apa yang haram, karna kau; tuhan telah menyatu. Dalam cinta.”
“ah, mana mungkin tuhan menghalalkan yang haram? Mustahil!”
“ya ya”. Katanya sambil manggut-manggut.
“jika kau melarang orang lain memakai bantal kesayanganmu, apakah itu juga berlaku pada orang yang kau cintai?”
“emmm… mungkin tidak…” jawabku hati-hati
“begitu pula antara tuhan dan kekasihnya”
###
Sejak saat itu, aku tak perlu lagi sembahyang, buat apalagi berzakat apalagi puasa. Bagaimana mungkin aku beribadah pada tuhan sementara tuhan menyatu denganku? Telah tuhan halalkan apa yang sebelumnya ia halalkan, sebuah wujud cinta yang tak pernah ada bandingnya. Cinta tuhan pada makhluknya. Cinta makhluk pada tuhannya.
Awalnya memang sangat berat. Menjaga diri dari hal-hal yang dapat melupakan “kekasihku” ini, meskipun itu sebuah ibadah yang secara kasat mata bernilai ibadah. Sholat misalkan tapi tidak ingat tuhan, atau berzakat pun bersedekah hanya karena ingin dipilih di waktu pemilu mendatang. Tentu lebih baik tidak sholat tapi ingat tuhan, setidaknya kau tak akan ber-ma’siat saat mengingat tuhan.
Sampai datang berita kematian mawar padaku. Jelas saja aku tak percaya, dan buru-buru mendatanginya. Sama sekali tidak masuk akal orang yang dulunya kuanggap kekasih pengganti tuhan bisa mati. Mustahil. Tapi mayatnya di rumah sakit yang menjelaskan itu semua.
Sekarang aku mengerti; ternyata benar kata neitce; tuhan telah mati!
Tanpa kusadari, lelaki berjubah itu terbahak-bahak melihatku.